MUSLIM INGGRIS BUKA PINTU LEBAR MASJID

Muslim Inggris Buka Lebar Pintu Masjid      
Kontribusi dari Aziz Hamid   
Jumat, 09 Juni 2006
Kebijakan itu diambil menyususl meningkatnya aksi kekerasan terhadap Muslim pascaledakan bom London tahun lalu.Perlakuan buruk terus diterima Muslim Inggris pascaserangan bom di kota London 7 Juli lalu. Mereka harus hidup di bawah pengawasan dan bayang-bayang kecurigaan dari masyarakat sekitarnya. Masjid yang merupakan tempat suci bagi umat Muslim pun turut dicurigai sebagai sarang terorisme.

Tindakan generalisasi tersebut bukan hanya mengganggu namun juga menimbulkan ketidaknyamanan di kalangan umat Islam. Karena itu, The Muslim Council of Britain (MCB) atau Dewan Muslim Inggris meluncurkan laporan yang berisi sikap penolakan mereka terhadap tindakan yang menganggap masjid sebagai salah satu markas terorisme.

Laporan setebal 40 halaman ini diungkapkan ke muka publik awal Mei lalu, dalam rapat di Masjid Disdbury, Manchester. Rapat tersebut menghadirkan 300 perwakilan dari 400 organisasi Muslim seluruh Inggris.

''Kami menolak penyataan tak berdasar yang menyatakan bahwa beberapa masjid dianggap sebagai markas kelompok Islam radikal atau kelompok teroris, atau bahwa kami mengajarkan doktrin-doktrin ekstrim,'' ujar juru bicara MCB, Inayat Bunglawala.

Selain berisi penolakan para imam dan pengurus masjid, laporan ini juga menyoroti nasib komunitas Muslim yang menjadi warga minoritas Inggris. Umat Muslim Inggris yang berjumlah 1,8 juta jiwa atau tiga persen dari total populasi, selama ini hidup di bawah pengawasan ketat aparat kepolisian setempat.

Langkah ini dilakukan aparat kepolisian pascaserangan bom yang menewaskan 56 orang dan melukai lebih dari 700 orang di stasiun kereta api bawah tanah di ibukota Inggris. Aksi yang diklaim dilakukan oleh empat orang Muslim ini telah menyeret jutaan Muslim lainnya ke dalam jurang diskriminasi.

Laporan ini juga merekomendasikan beberapa langkah praktis yang bisa diambil para pengurus masjid dalam menghadapi masalah tersebut. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah kebijakan "buka pintu". Kebijakan ini mengundang umat non-Muslim untuk melihat masjid dan aktivitas di dalamnya. Saat ini ada sekitar seribu lebih masjid yang tersebar di seluruh Inggris Raya.

''Masyarakat tidak memahami Islam dan hidup dalam kesalahpahaman terhadap kepercayaan Muslim. Mereka juga memiliki kecurigaan terhadap apa yang dilakukan umat Islam di dalam masjid,'' ujar Bunglawala. Karena itu, laporan ini merekomendasikan agar masjid membuka pintu-pintunya bagi kelompok non-Muslim.

Menurut dia, Muslim Inggris harus menyampaikan dasar ajaran Islam dan tujuan pendirian masjid yang sesungguhnya, yang selain untuk beribadah juga untuk mengajak anak-anak muda agar takut pada Tuhan dan menjadi orang yang berguna di tengah masyarakat.

Menurut Bunglawala, saat ini banyak masjid di negara tersebut yang perlu dicontoh. Masjid-masjid ini menjalin kerja sama dengan anak-anak muda, memfasilitasi aktivitas wanita setempat, dan juga terus menyemangati umat Islam agar bisa memberikan kontribusi lebih banyak kepada komunitasnya. Meski demikian, ia tidak menutup mata ada juga masjid yang tidak menunjukkan kinerja sebaik yang lainnya.

Selain kebijakan buka pintu, laporan tersebut juga menyatakan dukungannya kepada imam yang fasih berbahasa Inggris. Menurut mereka, imam dengan kemampuan berbahasa Inggris bisa berkomunikasi lebih baik dengan pemuda yang "salah jalan" dan meluruskan informasi yang mereka dapat dari para pemimpin agama yang mengajarkan aliran ekstrem.

Laporan ini juga meminta agar para imam meningkatkan penggunaan khutbah berbahasa Inggris mengingat sebagian besar Muslim Inggris berusia di bawah 24 tahun tidak memahami bahasa Arab. Termasuk meminta agar pengurus masjid untuk melibatkan lebih banyak lagi wanita dan para remaja untuk berpartisipasi.

Lebih jauh, para pemimpin muslim dan juga politisi sudah membuat program pelatihan bagi para imam masjid di bidang keterampilan non-agama. Para imam ini akan belajar pengembangan kemampuan, seperti dialog lintas agama, dan juga resolusi konflik. Mereka juga akan membangun ''Beacon Center'' atau Pusat Beacon untuk mempromosikan integrasi dan cara membangun kepemimpinan.

Semua Orang Melihat Janggut Saya

Harmonisasi yang mulai terjalin pascatragedi 11 September terkoyak lagi begitu bom meledak di London, Juli tahun lalu. Muslim Inggris yang menjadi kelompok minoritas di negara kerajaan
tersebut mengaku hidup di bawah bayang-bayang kecurigaan masyarakat. Selain dijauhi ketika berjalan di muka publik, mereka juga sering mendapat tatapan tidak bersahabat dari masyarakat.''Mereka tidak melakukannya atas nama kami atau komunitas kami, tapi mengapa kini tiba-tiba kami semua hidup di bawah kecurigaan,'' ujar Abu Hasan, seorang remaja Pakistan kelahiran Inggris.

Bersama orang Pakistan lainnya, Hasan yang tidak pernah melanggar hukum kini menjadi sasaran kebencian masyarakat. Pasalnya tiga dari pelaku bom bunuh diri di London merupakan orang Pakistan. Ia mengaku hidup di bawah kecurigaan orang-orang yang selalu menatap ke arah janggutnya dan senantiasa berjalan menjauhinya.

''Saya tidak menginginkan ini semua. Saya selalu taat hukum, tapi itu semua berarti lagi saat ini. Tiba-tiba saja saya merasa menjadi orang asing,'' ujarnya.

Masih banyak lagi orang-orang seperti Hasan yang harus menanggung akibat dari perbuatan yang tidak pernah mereka lakukan. Kelompok Muslim yang tidak bersalah ini terpaksa harus menanggng konsekuensi buruk atas apa yang dilakukan kelompok yang mengaku Muslim radikal.

Berdasarkan laporan, di kawasan lembah Thames, angka kriminalitas berlatar belakang ras meningkat 40 persen sejak aksi bom London. Satu dari lima orang menyatakan bahwa ada salah satu anggota keluarga mereka yang menerima pelecehan dan aksi kekerasan pasca serangan bom london tersebut.

Padahal berdasakan hasil pengumpulan suara, 91 persen dari komunitas Muslim ini mengaku mereka loyal kepada Inggris. Bahkan 80 persen di antaranya menginginkan untuk bergabung dan diterima oleh komunitas Barat. ''Kami besar dan belajar di negara ini,'' ujar Hasan, bagaimana bisa kami dicurigai sebagai penghancur negeri sendiri.''

Iklan