BD: Meningkatkan Kualitas Hidup

BD: Meningkatkan Kualitas Hidup

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Attānañce piya jaññā, rakkheyya na surakkhita

Apabila seseorang mencintai dirinya sendiri,

maka ia harus menjaga diri dengan sebaik-baiknya.

(Dhammapada, Attavagga 157)

Dalam kehidupan ini tentunya ada hal-hal yang perlu kita waspadai yaitu perbuatan yang keliru atau perbuatan yang tidak benar, karena perbuatan tersebut akan menghasilkan penderitaan. Perbuatan keliru wajar terjadi, karena kita masih diliputi oleh kekotoran batin. Bukan berarti karena hal itu wajar, lalu kita biarkan begitu saja di dalam diri kita. Tentunya hal tersebut tidak benar untuk dipertahankan. Hal yang buruk apabila dipertahankan tidak akan membawa keberuntungan dalam kehidupan ini. Tentunya bagi orang yang berpikir bijak selalu berusaha untuk memperbaiki setiap kesalahan-kesalahan dan kekeliruan yang pernah dilakukannya.

Mengingat kehidupan ini diliputi oleh penderitaan, kita sebagai umat Buddha hendaknya selalu mempunyai komitmen untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik, “agar hidup kita terasa aman dan bahagia”. Tentunya untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik, kita harus mempunyai usaha yang gigih dan semangat untuk mencari jalan pembebasan.

Dalam Dgha Nikāya II.313 Sang Buddha memberikan jawabannya agar kita selalu mempunyai upaya yang jelas dan benar di dalam hidup ini, yaitu:

1. Mencegah hal-hal buruk dan jahat yang belum ada dalam diri, agar tidak timbul.

Membangkitkan keinginan untuk mencegah munculnya keadaan-keadaan jahat yang tidak menguntungkan agar tidak muncul. Kita harus berupaya, mengarahkan tekad dan mengarahkan usaha untuk mencapai tujuan ini. Kita harus berusaha untuk mencegah hal yang tidak baik, agar hidup kita terasa nyaman.

2. Usaha rajin untuk menghilangkan keadaan-keadaan jahat dan buruk yang sudah ada dalam diri kita.

Membangkitkan keinginan untuk meninggalkan keadaan-keadaan buruk yang tidak menguntungkan yang telah muncul. Kita harus berupaya, mengarahkan tekad dan mengarahkan pikiran untuk mencapai tujuan terbebas dari keadaan-keadaan yang tak bajik. Jadi, yang dimaksudkan di sini kita menyadari kejahatan yang telah muncul dalam diri kita dengan mau menghilangkannya, serta berusaha agar kejahatan yang sama tidak terulang lagi pada masa mendatang. `Menyadari kejahatan’ bukan berarti menyesali, karena penyesalan merupakan hal-hal yang tidak baik, yang didasari oleh kekecewaan, kecemasan atau ketakutan. Kejahatan tidak akan berubah menjadi baik kalau kita hanya menyesalinya saja. Kecewa hanya akan memperberat masalah saja. Dalam Dhammapada Lokavagga 173 disebutkan bahwa “Seseorang yang meninggalkan perbuatan jahat dan menggantikannya dengan perbuatan baik, maka ia akan menerangi seluruh dunia seperti bulan yang tidak tertutup oleh awan.”

3. Usaha rajin untuk menimbulkan keadaan-keadaan baik di dalam diri kita.

Membangkitkan keinginan untuk menimbulkan keadaan-keadaan yang menguntungkan yang masih belum muncul. Kita harus berupaya, mengarahkan tekad dan mengarahkan pikiran untuk mencapainya.

“Oleh diri sendiri kejahatan diperbuat, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi ternoda. Oleh diri sendiri kejahatan dihindari, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci. Suci atau ternoda tergantung pada diri sendiri. Tidak ada seorang pun yang dapat menyucikan orang lain.” (Dhammapada, Attavagga 165)

4. Usaha rajin untuk menjaga dan mengembangkan keadaan-keadaan baik yang telah timbul agar tidak membiarkannya lenyap.

Membangkitkan keinginan untuk mempertahankan, tidak meninggalkan, melainkan mengembangkan, menambah dan memupuk hal-hal yang bajik. Hendaknya kita berupaya, mengarahkan tekad dan mengarahkan pikiran untuk mengembangkan kebajikan.

Banyak cara seseorang untuk mencapai apa yang diinginkan. Tetapi berbeda dengan ajaran Buddha. Dalam agama Buddha, kita ditekankan untuk berbuat sesuatu dengan upaya yang benar, “bukan asal-asalan”. Sang Buddha mengajarkan jalan yang pasti agar kita dapat berbahagia di dalam Dhamma. Ditinjau dari segi sosial, seseorang yang mengarahkan diri secara benar tentunya tidak akan menjadi ancaman atau bahaya apapun bagi masyarakat luas di sekelilingnya. Bahkan lebih jauh, dengan mengarahkan diri secara benar, seseorang dapatlah dianggap telah ikut serta secara nyata dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera, bahagia, makmur dan damai, dan orang tersebut bisa dikatakan mempunyai mutu kualitas hidup yang benar.

Dalam Agama Buddha, usaha sendiri senantiasa memegang peranan yang paling utama dalam meraih kemajuan dan perkembangan batiniah. Tanpa dilandasi usaha sendiri, sangatlah sulit bagi seseorang untuk meningkatkan kualitas hidup ke arah yang benar.

Memang, terkadang kita sulit untuk melihat kesalahan ataupun kekeliruan diri sendiri. Jauh lebih sulit lagi kalau kita membiarkan kekotoran perilaku tersebut berkembang di dalam diri kita, karena dampaknya penderitaan. Pintu kebahagiaan akan terbuka bagi seseorang yang manjalani kehidupan dengan benar.

Blogged with the Flock Browser
Iklan