BD: Pengabdian Penuh Pengorbanan

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Māta yathā niyaṁ puttaṁ – Āyusā ekaputtamanurakkhe
Evampi sabbabhūtesu – Mānasambhāvaye aparimāṇan’ti

Sebagaimana seorang ibu mempertaruhkan jiwa melindungi putra tunggalnya;
demikianlah terhadap semua makhluk, kembangkan pikiran cinta kasih tanpa batas.
(Karaniyametta Sutta, Khuddaka Nikāya)

Dikutip : dari Dammacakka artikel untuk mengembangkan kualitas hidup kita.

Kata-kata judul di atas, memang akan tergantung pada tipe manusianya sendiri. Sebab, manusia umumnya berpikir bahwa apapun yang dilakukan dalam aktivitas sehari-hari tentu untuk kepentingan dirinya sendiri, memperoleh apa yang diinginkan sendiri, meraih apa yang dicita-citakan sendiri, terpenuhinya harapan-harapan sendiri.
Kita hidup yang pasti tidak sendiri dan tidak bisa, tidak mungkin hidup sendiri. Akan tetapi memang ada empat macam tipe manusia yang terkait dengan keberadaannya bersama orang lain. Pertama, ada orang yang berbuat untuk dirinya sendiri bukan orang lain. Kedua, ada orang yang berbuat untuk orang lain bukan untuk dirinya sendiri. Ketiga, ada orang berbuat untuk dirinya sendiri dan juga untuk orang lain. Keempat, ada orang yang berbuat bukan untuk dirinya sendiri juga bukan untuk orang lain. 

Mengabdi Untuk Kepentingan Diri Sendiri
Buruknya pikiran manusia tertentu justru adalah dengan cenderungnya terlebih dahulu muncul bayangan dalam pemikirannya, ‘apa manfaat yang akan kita dapat dari melakukan sesuatu itu’. Dan tidak ada pemikiran bahwa mampukah kita, siapkah kita berbuat sesuatu untuk mendapatkan manfaat yang sesuai harapan itu? Inilah yang sering terjadi sehingga orang-orang yang pintar sekalipun masih kesulitan dalam hidupnya untuk meraih harapan atau cita-citanya. Andaikata bisa tercapai pun cita-cita itu ternyata dengan jalan yang tak semestinya terjadi. Artinya dengan kemampuan dan kepandaian yang dimiliki orang seperti ini kadang-kadang berbuat salah untuk meraih kepentingannya sendiri. Contoh nyata tentu para koruptor adalah orang-orang pintar yang menyalahgunakan kepandaian, kemampuannya sendiri untuk meraih sukses, tetapi tidak dipedulikan bahwa suskses yang diraihnya adalah sukses yang salah dan tidak dipikirkan dampak buruknya. Orang seperti ini adalah orang egois yang disertai kebodohan batin yang tebal.
Memang ada juga orang yang hanya memikirkan kepentingan pribadinya sendiri tanpa peduli orang lain tetapi tidak menyalahgunakan kepandaian dan kemampuan yang dimilikinya. Orang ini masih bersikap hati-hati dalam bertindak tetapi hanya egois terhadap orang lain sehingga dia adalah orang egois disertai kebodohan batin yang tipis.

Mengabdi Untuk Kepentingan Orang Lain
Orang yang lebih banyak memikirkan dan mengutamakan ke-pentingan orang lain bisa ada dua macam. Ada orang yang lebih mengutamakan kepentingan orang lain dengan ketulusan yang sedikit masih ada berpikir untuk kepentingan dirinya sendiri. Dan ada juga orang yang sangat memperhatikan kepentingan orang lain, tetapi tidak terlalu perlu memikirkan untuk dirinya sendiri. Golongan orang-orang seperti ini dalam bahasa Inggris disebut altruist sebagai lawan dari egois. Mereka dalam kelompok ini justru karena memang ada memiliki ketulusan sehingga rela berbuat untuk orang lain. 

Hubungan Diri Sendiri dengan Orang Lain
Setiap orang bahkan setiap makhluk hidup memiliki hubungan satu sama lain dalam masa-masa kehidupannya. Tidaklah mungkin, dengan kata lain suatu hal yang mustahil, jika ada orang yang merasa bisa hidup sendiri tanpa ada orang lain atau makhluk lain. Hubungan satu dengan orang lain itu bisa saja yang terjalin hubungan tidak baik antara satu dengan yang lain. Apalagi, hubungan baik yang sangat membuat satu dengan yang lainnya saling memiliki hubungan baik biasanya ketergantungannya saling membutuhkan satu sama lain.
Dalam menempuh segala macam hal terkait kegiatan sehari-hari, individu yang memiliki hubungan baik biasanya juga pasti mau saling berkorban tenaga, waktu, pemikiran, materi bahkan mengorbankan hidupnya demi hubungan baiknya dengan orang lain bisa terjaga dengan baik pula.
Mungkin kita akan menelaah secara sangat khusus bagaimana seorang ibu dikatakan berani mempertaruhkan hidupnya demi perawatan dan pertumbuhan anak tunggal yang dimilikinya. Anak kandung satu-satunya yang dimiliki adalah seolah-olah harga mati bagi hidupnya, sehingga sebagai ibu lebih baik dia yang mati daripada anaknya menjadi korban tertentu. Sesungguhnya betapa sulitnya kenyataan yang ada seperti keadaan sekarang ini. Mengapa ada banyak ibu yang malah mengorbankan anak kandungnya sendiri demi menikmati hidup bagi dirinya sendiri. Kita bisa melakukan analisa sesungguhnya. Seseorang itu bisa menunjukkan rasa pengabdiannya untuk hidup ini demi orang lain dan demi dirinya sendiri, atau sebaliknya hanya demi kenikmatan hidupnya sendiri saja, tapi tidak peduli orang lain, akan terasa hubungan yang ada itu baik atau tidak baik.

Marilah kita coba buktikan sendiri pengabdian itu apa, pengorbanan itu apa. Tentu tulisan ini hanya menjadi bagian dari ungkapan tentang apakah kita mau atau tidak untuk mengetahui secara nyata tentang dua istilah itu. Kenyataannya ada pada praktik.

Cobalah! Cobalah! Cobalah!

Blogged with the Flock Browser
Iklan